Sebuah pengakuan: I feel like I just murdered someone.
Something sih lebih tepatnya.
Ceritanya beberapa minggu yang lalu saya melihat anak kucing yang baru saja kehujanan di tengah jalan mau pulang. Masih kecil, lucu, dan kasihan. Sebagai salah satu makhluk yang juga suka dengan kucing, maka saya meminggirkan kucing itu ke pinggir jalan biar ga ketabrak mobil. Saat itu terpikir sejenak buat mbawa kucing ke kosan untuk dipelihara, tetapi mengingat kamar kos ada di lantai 3, dan dengan lingkungan yang individualis ala Jakarta (atau saya yang terlalu ansos sih mungkin), jadi saya mengurungkan niat dan malah membeli ayam bakar.
Masalah dimulai ketika rasa bersalah itu muncul. Pada saat menunggu ayam dibakar, ada semacam "apa pelihara aja ya?". Saya lalu googling cara memelihara anak kucing, cara memelihara kucing di kosan, dan lain sebagainya. Sejujurnya saya ngga pernah benar-benar memelihara kucing, cuma suka ngasih makan aja dan nguyel-uyel kucing yang suka tidur di kolong mobil kalau di rumah. Rasa bersalah saya karena menelantarkan anak kucing tersebut akhirnya sampai pada puncaknya, yaitu saya memutuskan untuk mengambil dan mencoba memelihara makhluk yang kasihan tersebut. Saya memacu motor lagi ke jalan yang tadi, tapi sayangnya engga nemu kucing tadi. Mungkin emang ga jodoh.
Tapi ternyata jodoh sih. Hari berikutnya, saya melihat anak kucing itu ketika berangkat ke kantor. Oke, kalau pulang ketemu lagi mungkin jodoh. Dan benar, ketika pulang ketemu lagi. Setelah melihat sekitar, memastikan tidak ada ibunya si kucing itu, saya mengambil kucing tersebut, menaruh di kolong motor di bawah stang Vario, membeli whiskas sasetan, dan membawa si kucing tersebut ke kosan.
Sesudah sampai di kosan, saya mulai memotong-motong kardus bekas kipas angin, membentuk sedemikian rupa sehingga menjadi litter box, dan menaruh pasir yang diambil dari rumah depan kosan yang emang lagi renovasi. Masalah berikutnya adalah, dimana saya harus taruh litter box? Saya ngga pernah keluar kamar, bahkan tetangga kanan-kiri kos ga kenal. Terpaksa saya taruh di kamar, dengan ditutup kertas koran dan sebagainya biar lantai kosan ga kotor-kotor amat. Untuk kandang, saya taruh handuk teman saya yang tertinggal saat dia nginep di kosan ke dalam kotak kardus lain. Malam pertama dengan si kucing saya habiskan dengan membersihkan bulunya yang agak kusut karena habis kehujanan. Ketika eek pun, si kucing bisa eek di litter box yang disediakan. Semua berjalan dengan lancar. Sepertinya saya bisa melakukannya.
Masalah berikutnya adalah ketika pagi, mau saya taruh dimana si kucing ini? Kalau saya taruh luar, bisa-bisa bikin geger anak kosan. Dan mungkin saya bisa diusir jika ketauan ibu kos. Akhirnya, si kucing saya taruh di dalam kamar, taruh whiskas dan air agak banyak, menyalakan air cooler kecepatan low, mengamankan barang-barang yang sekiranya berbahaya bagi kucing maupun bagi barang itu sendiri, dan mengunci kamar seperti biasa. Lalu saya berangkat ke kantor. Di kantor, pikiran agak bercabang karena parno si kucing bakal eek dimana, mati engga kalo ditinggal, dan sebagainya. Sepulang kantor ada ajakan dari teman-teman buat jajan dan bersosialisasi, tapi saya memilih untuk langsung pulang dan melihat si kucing. Pintu dibuka, bau eek kucing menyeruak, pasir dimana-mana, tapi si kucing baik-baik saja.
Karena whiskas sudah tinggal dikit dan saya merasa kamar saya sangat kotor kalau memakai pasir sebagai litter box, maka saya membeli makanan kucing dan pasir khusus kucing di petshop deket kosan. Saya mengganti pasir yang kotor dengan pasir kucing yang lumayan bersih. Makanan juga diganti yang lebih murah. Tapi masalah belum selesai.
Hari berikutnya ketika saya kembali dari kantor, litter box saya bersih tidak ada eek kucing. Si kucing malah eek di kasur, entah kenapa. Saya harus melatih berkali-kali agar dia mau eek di litter box. Kasur saya ganti sepre 3 kali dalam 2 malam. Si kucing juga awalnya gak doyan dengan makanan barunya. Harus dilatih juga agar akhirnya doyan makan makanan kucing tersebut (pakai rasio whiskas 20 - makanan baru 80, sampai akhirnya whiskas habis).
Beberapa hari berlalu, si kucing yang tadinya gugup sudah mulai manja. Bulunya sudah bagus dan sudah lincah berlari-lari kesana kemari. Kaki saya sudah kena gigit berkali-kali, dan tangan saya sudah penuh dengan luka cakar. Ngga masalah karena ini adalah bagian dari memelihara kucing, apalagi masih anak-anak. Tetapi semakin lama, saya merasa agak kerepotan. Saya harus membuat benteng dari susunan kardus karena si kucing tidak bisa diam ketika saya harus mengerjakan sesuatu di laptop. Kaki harus selalu dilindungi dengan entah selimut atau apa biar ga digigit dan dicakar. Si kucing juga masih suka eek di kasur. Tepat seminggu, tekad saya mulai goyah.
Hari itu, si kucing lebih agresif. Sepertinya dia juga stress karena terus menerus ditinggal di kamar kos yang panas. Yang biasanya nyakar dan gigit, jadi lebih seram karena mulai mendesis dan mengeong keras-keras. Saya merasa bersalah. Saya mulai tanya ke teman-teman yang mempunyai rumah di Jakarta, apakah ada yang mau memelihara. Sayangnya engga ada. Agak panik juga karena itu hari Sabtu dan tentu saja seluruh penghuni ada di kos masing-masing, sedangkan si kucing tidak berhenti mengeong meski diberi makan. Dan juga tidak berhenti buat eek di kasur. Saya merasa panik dan kalah. Saya merasa tidak bisa untuk terus-menerus seperti ini. Maka, yang terjadi terjadilah. Saya akhirnya mengembalikan si kucing itu ke jalan. Ke tempat saya mengambil si kucing tersebut.
Tentu saja malam-malam selanjutnya adalah malam-malam saya harus baper karena merasa bersalah. Apalagi tadi di luar hujan. Si Andin mencoba meyakinkan bahwa kucing liar memang habitatnya di luar, jadi ya wajar kalau hujan. Semoga begitu. Hari-hari selanjutnya juga saya sengaja buat memutar, ngga lewat jalan biasanya demi nggak baper kalo ketemu si kucing. Ketika 9gag-an, saya juga harus skip gif gif kucing yang lagi lucu. Semacam tidak kuat untuk menghadapi rasa bersalah.
Sampai pada beberapa hari yang lalu. Saya melihat si kucing ketika mau makan siang dengan teman. Si kucing terlihat dekil. Dia duduk begitu di bawah warung seblak. Sepertinya habis kehujanan dan mungkin jatuh ke got. Ada semacam tarikan yang kuat agar kembali mengambil si kucing itu. Tapi...
Tapi Ya Allah Ya Robb, demi kehidupan kos yang sudah kembali tenang, demi kasur yang sudah bersih, demi bau kamar yang kembali normal, demi tidak di usir dari kosan, saya harus mengubur dalam-dalam rasa kasihan itu. Maaf ya kucing. Maaf. Semoga kamu membaik dan bahagia di masa depan. Maaf. Maaf karena sudah...
...
...
Oke. Catatan akhir.
Kadang jadi harus berpikir, bahwa benar kata Iwan, hidup memang bukan pilihan. Hidup terjadi begitu saja. Mungkin takdir. Kalau kata Pidi, kita hidup karena hasil orangtua kita yang habis bersenang-senang. Tapi bagaimanapun ketika kita sudah hidup, mau tidak mau, siap tidak siap, memang harus bertarung dan menjalani hidup itu, apapun kondisinya.
Oh btw, kemarin ketika saya jalan ke Masjid pas mau jumatan, saya kembali melihat anak kucing lain yang juga sama kasihan di pinggir jalan. Bulunya putih bagus, tapi kotor. Mungkin ini semacam peringatan,
atau kutukan.
Something sih lebih tepatnya.
Ceritanya beberapa minggu yang lalu saya melihat anak kucing yang baru saja kehujanan di tengah jalan mau pulang. Masih kecil, lucu, dan kasihan. Sebagai salah satu makhluk yang juga suka dengan kucing, maka saya meminggirkan kucing itu ke pinggir jalan biar ga ketabrak mobil. Saat itu terpikir sejenak buat mbawa kucing ke kosan untuk dipelihara, tetapi mengingat kamar kos ada di lantai 3, dan dengan lingkungan yang individualis ala Jakarta (atau saya yang terlalu ansos sih mungkin), jadi saya mengurungkan niat dan malah membeli ayam bakar.
Masalah dimulai ketika rasa bersalah itu muncul. Pada saat menunggu ayam dibakar, ada semacam "apa pelihara aja ya?". Saya lalu googling cara memelihara anak kucing, cara memelihara kucing di kosan, dan lain sebagainya. Sejujurnya saya ngga pernah benar-benar memelihara kucing, cuma suka ngasih makan aja dan nguyel-uyel kucing yang suka tidur di kolong mobil kalau di rumah. Rasa bersalah saya karena menelantarkan anak kucing tersebut akhirnya sampai pada puncaknya, yaitu saya memutuskan untuk mengambil dan mencoba memelihara makhluk yang kasihan tersebut. Saya memacu motor lagi ke jalan yang tadi, tapi sayangnya engga nemu kucing tadi. Mungkin emang ga jodoh.
Tapi ternyata jodoh sih. Hari berikutnya, saya melihat anak kucing itu ketika berangkat ke kantor. Oke, kalau pulang ketemu lagi mungkin jodoh. Dan benar, ketika pulang ketemu lagi. Setelah melihat sekitar, memastikan tidak ada ibunya si kucing itu, saya mengambil kucing tersebut, menaruh di kolong motor di bawah stang Vario, membeli whiskas sasetan, dan membawa si kucing tersebut ke kosan.
Sesudah sampai di kosan, saya mulai memotong-motong kardus bekas kipas angin, membentuk sedemikian rupa sehingga menjadi litter box, dan menaruh pasir yang diambil dari rumah depan kosan yang emang lagi renovasi. Masalah berikutnya adalah, dimana saya harus taruh litter box? Saya ngga pernah keluar kamar, bahkan tetangga kanan-kiri kos ga kenal. Terpaksa saya taruh di kamar, dengan ditutup kertas koran dan sebagainya biar lantai kosan ga kotor-kotor amat. Untuk kandang, saya taruh handuk teman saya yang tertinggal saat dia nginep di kosan ke dalam kotak kardus lain. Malam pertama dengan si kucing saya habiskan dengan membersihkan bulunya yang agak kusut karena habis kehujanan. Ketika eek pun, si kucing bisa eek di litter box yang disediakan. Semua berjalan dengan lancar. Sepertinya saya bisa melakukannya.
Masalah berikutnya adalah ketika pagi, mau saya taruh dimana si kucing ini? Kalau saya taruh luar, bisa-bisa bikin geger anak kosan. Dan mungkin saya bisa diusir jika ketauan ibu kos. Akhirnya, si kucing saya taruh di dalam kamar, taruh whiskas dan air agak banyak, menyalakan air cooler kecepatan low, mengamankan barang-barang yang sekiranya berbahaya bagi kucing maupun bagi barang itu sendiri, dan mengunci kamar seperti biasa. Lalu saya berangkat ke kantor. Di kantor, pikiran agak bercabang karena parno si kucing bakal eek dimana, mati engga kalo ditinggal, dan sebagainya. Sepulang kantor ada ajakan dari teman-teman buat jajan dan bersosialisasi, tapi saya memilih untuk langsung pulang dan melihat si kucing. Pintu dibuka, bau eek kucing menyeruak, pasir dimana-mana, tapi si kucing baik-baik saja.
Karena whiskas sudah tinggal dikit dan saya merasa kamar saya sangat kotor kalau memakai pasir sebagai litter box, maka saya membeli makanan kucing dan pasir khusus kucing di petshop deket kosan. Saya mengganti pasir yang kotor dengan pasir kucing yang lumayan bersih. Makanan juga diganti yang lebih murah. Tapi masalah belum selesai.
Hari berikutnya ketika saya kembali dari kantor, litter box saya bersih tidak ada eek kucing. Si kucing malah eek di kasur, entah kenapa. Saya harus melatih berkali-kali agar dia mau eek di litter box. Kasur saya ganti sepre 3 kali dalam 2 malam. Si kucing juga awalnya gak doyan dengan makanan barunya. Harus dilatih juga agar akhirnya doyan makan makanan kucing tersebut (pakai rasio whiskas 20 - makanan baru 80, sampai akhirnya whiskas habis).
Beberapa hari berlalu, si kucing yang tadinya gugup sudah mulai manja. Bulunya sudah bagus dan sudah lincah berlari-lari kesana kemari. Kaki saya sudah kena gigit berkali-kali, dan tangan saya sudah penuh dengan luka cakar. Ngga masalah karena ini adalah bagian dari memelihara kucing, apalagi masih anak-anak. Tetapi semakin lama, saya merasa agak kerepotan. Saya harus membuat benteng dari susunan kardus karena si kucing tidak bisa diam ketika saya harus mengerjakan sesuatu di laptop. Kaki harus selalu dilindungi dengan entah selimut atau apa biar ga digigit dan dicakar. Si kucing juga masih suka eek di kasur. Tepat seminggu, tekad saya mulai goyah.
Hari itu, si kucing lebih agresif. Sepertinya dia juga stress karena terus menerus ditinggal di kamar kos yang panas. Yang biasanya nyakar dan gigit, jadi lebih seram karena mulai mendesis dan mengeong keras-keras. Saya merasa bersalah. Saya mulai tanya ke teman-teman yang mempunyai rumah di Jakarta, apakah ada yang mau memelihara. Sayangnya engga ada. Agak panik juga karena itu hari Sabtu dan tentu saja seluruh penghuni ada di kos masing-masing, sedangkan si kucing tidak berhenti mengeong meski diberi makan. Dan juga tidak berhenti buat eek di kasur. Saya merasa panik dan kalah. Saya merasa tidak bisa untuk terus-menerus seperti ini. Maka, yang terjadi terjadilah. Saya akhirnya mengembalikan si kucing itu ke jalan. Ke tempat saya mengambil si kucing tersebut.
Tentu saja malam-malam selanjutnya adalah malam-malam saya harus baper karena merasa bersalah. Apalagi tadi di luar hujan. Si Andin mencoba meyakinkan bahwa kucing liar memang habitatnya di luar, jadi ya wajar kalau hujan. Semoga begitu. Hari-hari selanjutnya juga saya sengaja buat memutar, ngga lewat jalan biasanya demi nggak baper kalo ketemu si kucing. Ketika 9gag-an, saya juga harus skip gif gif kucing yang lagi lucu. Semacam tidak kuat untuk menghadapi rasa bersalah.
Sampai pada beberapa hari yang lalu. Saya melihat si kucing ketika mau makan siang dengan teman. Si kucing terlihat dekil. Dia duduk begitu di bawah warung seblak. Sepertinya habis kehujanan dan mungkin jatuh ke got. Ada semacam tarikan yang kuat agar kembali mengambil si kucing itu. Tapi...
Tapi Ya Allah Ya Robb, demi kehidupan kos yang sudah kembali tenang, demi kasur yang sudah bersih, demi bau kamar yang kembali normal, demi tidak di usir dari kosan, saya harus mengubur dalam-dalam rasa kasihan itu. Maaf ya kucing. Maaf. Semoga kamu membaik dan bahagia di masa depan. Maaf. Maaf karena sudah...
...
...
Oke. Catatan akhir.
Kadang jadi harus berpikir, bahwa benar kata Iwan, hidup memang bukan pilihan. Hidup terjadi begitu saja. Mungkin takdir. Kalau kata Pidi, kita hidup karena hasil orangtua kita yang habis bersenang-senang. Tapi bagaimanapun ketika kita sudah hidup, mau tidak mau, siap tidak siap, memang harus bertarung dan menjalani hidup itu, apapun kondisinya.
Oh btw, kemarin ketika saya jalan ke Masjid pas mau jumatan, saya kembali melihat anak kucing lain yang juga sama kasihan di pinggir jalan. Bulunya putih bagus, tapi kotor. Mungkin ini semacam peringatan,
atau kutukan.
Fakyu, Bay!
Disclaimer: Tulisan ini adalah hasil 100% kebaperan penulis di akhir 2015. Sangat egois, narsis, dipenuhi rasa iri, dan memiliki sudut pemikiran yang sangat sempit. Pengennya sih please don’t judge me, tapi ya sembarang sih. Kayaknya ga akan banyak dibaca juga. Another note to my future self. Whatever, here we go..
—
Siapa sih itu, lupa, puisi, yang bilang kalau alangkah mengerikan sekali menjadi tua dengan kenangan masa muda berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. Oh pak Seno Gumira Ajidarma.
Masalahnya pak, kalau semua orang terus akhirnya bikin puisi, njuk siapa yang mau kamu suruh buat ngitung beban struktur dan analisis biaya buat mbangun jembatan selat madura? Random sih contohnya emang, tapi semoga nangkep maksudnya.
Jadi gini…
Kayaknya sering banyak orang bilang, ga usah peduli apa kata orang, yang penting kejar passionmu! Keren sih kalau kamu gitu, idealis. Masalahnya, terus kerjaaan-kerjaan yang agak susah jadi passion orang-orang siapa yang ngerjain?!
Biasanya awal mula gerah mau ngapain dimulai pas SMA atau awal kuliah. Anak SMA mah apa taunya cuma pesta dan cinta. Bukunya biasanya sih belom. Ketika pandangan masih sempit, dunia pun ditarik hanya dari yang senang-senang aja, atau yang “kata orang sih” berguna. Pada akhirnya, titik balik diambil. Orang jadi musisi, pelukis, dan lain sebagainya, dalam rangka mengejar passion. Pada saat itu, mungkin beberapa berhasil, beberapa gagal dan akhirnya balik lagi ke jalur yang agak lebih “mainstream”. Masalah yang terjadi adalah: boleh lah satu dua orang keluar jalur. Tapi ketika hal ini jadi trend kaya akhir-akhir ini, kayak semua orang harus kejar passionmu, upload karyamu dimana-mana, terus yang ngerjain hal-hal yang bukan jadi passion orang tapi lebih berguna njuk siapa?
Sepertinya disini, di negara ini, kadang slogan lebih berarti dari ngerjain kerjaan yang di-slogan-in yang biasanya emang ga seksi.
Contohnya gini. Slogan “selamatkan lingkungan” jelas seksi. Navicula keren banget bawain isu lingkungan di lagu-lagu grunge mereka. Tapi kalo semua pengen jadi Navicula, terus siapa yang beneran menyelamatkan lingkungan?
Ini loh masalahnya. Bikin band itu jelas kerjaan yang passion-able banget. Apalagi berhasil menyuarakan isu penting dalam karyanya. Cool. Tapi kadang kita lebih menyoroti hal-hal remeh seperti ini. Hal-hal yang slogan banget. Sementara hutan tiap hari tetep terus-terusan ditebang pas kita dengerin Navicula teriak selamatkan hutan. Sementara orang utan tetep dibantai pas kita sibuk ngadain lomba poster selamatkan orang utan. Sementara Jakarta tetep macet naik ketika kamu sibuk bikin foto instagram jelajahi negerimu. Sementara bumi tetep memanas ketika kita sibuk teriak-teriak isu global warming.
Karena…
Karena kita masih ngga ngapa-ngapain. Karena biasanya kita udah ngerasa tenang ketika selesai teriak-teriak tentang slogan tadi. “Setidaknya apa yang jadi kegundahan gue berhasil didengar banyak orang, semoga yang lain terinspirasi”.
Masalahnya..
Siapa yang terinspirasi?
Dan terinspirasi buat ngapain?
Kalau dibilang ga ada yang ngapa-ngapain juga, ngga juga sih. Banyak kok yang turun ke lapangan buat ngapain, kerja yang beneran, yang berguna, yang ga oportunis. Tapi ya ga pernah keliatan. Karena mungkin emang ga seksi sih. Sehari-hari bikin analisis soal manajemen hutan dan sertifikasi produk kayu di dalam bilik kubikel kantor di gedung lantai 12 mungkin emang lebih ga penting daripada di studio rekaman bikin lagu tentang selamatkan hutan (yang ironisnya, kertas yang dipake buat ngeprint kadang hasil dari nebang hutan juga). Sehari-hari ngurusin amdal, bikin STP, bikin skema distribusi listrik, mungkin emang ga sekece foto-foto di tempat keren terus bikin quote inspirasi. Sehari-hari bikin modeling dan analisis desain gedung emang ga lebih seksi daripada bikin cerpen dan novel tentang global warming yang kian menggila. Abaikan kalimat barusan karena kok malah kayak baper sama kerjaan sendiri.
Tapi bukan terus masalah siapa yang ngerjain karena pasti ada tumbal buat ngerjain hal-hal yang keliatannya ga passion-able amat. InsyaAllah masih ada lah kalo buat sekarang, orang-orang yang entah kenapa mau-maunya buat ngerjain hal-hal yang literally menyelamatkan dunia tapi emang kayak remeh, kayak kerjaan kantoran 8-5 doang. Mainstream. Tapi mindset nya yang emang harus dibenerin. Karena harus ada yang mau ngejadiin hal-hal penting kaya gini jadi passion.
Ketika semua orang menjual brand passion, ya jangan salahkan kalau lebih banyak orang yang akan protes soal ketidak-tersediaan fasilitas daripada orang yang beneran kerja buat ngadain fasilitasnya. Jangan kaget kalau lebih banyak orang nyanyi dan motret hutan yang gundul daripada orang yang mikirin administrasi biar hutan ga jadi gundul.
Jadi intinya adalah: ini adalah soal cinta dan esensi dari kerjaan yang kamu lakukan. Ga ada salahnya ngejar passion, tapi lebih ga ada salahnya lagi buat bilang sama anak cucu besok bahwa passion ga melulu soal seni, musik, dan desain, dan hal-hal menyenangkan lain. Bahwa mengerjakan sesuatu yang di-slogan-kan kadang lebih berguna daripada teriak-teriak soal slogan. Bahwa hasil kritik Gie soal kubangan lumpur yang jorok bernama politik tidak akan benar-benar berguna ketika tidak ada orang yang lalu emang terjun dan berani untuk membersihkan kubangan lumpur tersebut.
Karena kadang menjadi tua di jalan bisa jadi lebih berguna buat orang lain daripada diam di rumah dan hanya menghasilkan tulisan tanpa mau benar-benar turun dan berbuat sesuatu.
…
“Tapi kadang yang udah kaya gitu juga uangnya ga gede-gede amat pak!”
Yah, kalo soal itu mah…
—
Siapa sih itu, lupa, puisi, yang bilang kalau alangkah mengerikan sekali menjadi tua dengan kenangan masa muda berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. Oh pak Seno Gumira Ajidarma.
Masalahnya pak, kalau semua orang terus akhirnya bikin puisi, njuk siapa yang mau kamu suruh buat ngitung beban struktur dan analisis biaya buat mbangun jembatan selat madura? Random sih contohnya emang, tapi semoga nangkep maksudnya.
Jadi gini…
Kayaknya sering banyak orang bilang, ga usah peduli apa kata orang, yang penting kejar passionmu! Keren sih kalau kamu gitu, idealis. Masalahnya, terus kerjaaan-kerjaan yang agak susah jadi passion orang-orang siapa yang ngerjain?!
Biasanya awal mula gerah mau ngapain dimulai pas SMA atau awal kuliah. Anak SMA mah apa taunya cuma pesta dan cinta. Bukunya biasanya sih belom. Ketika pandangan masih sempit, dunia pun ditarik hanya dari yang senang-senang aja, atau yang “kata orang sih” berguna. Pada akhirnya, titik balik diambil. Orang jadi musisi, pelukis, dan lain sebagainya, dalam rangka mengejar passion. Pada saat itu, mungkin beberapa berhasil, beberapa gagal dan akhirnya balik lagi ke jalur yang agak lebih “mainstream”. Masalah yang terjadi adalah: boleh lah satu dua orang keluar jalur. Tapi ketika hal ini jadi trend kaya akhir-akhir ini, kayak semua orang harus kejar passionmu, upload karyamu dimana-mana, terus yang ngerjain hal-hal yang bukan jadi passion orang tapi lebih berguna njuk siapa?
Sepertinya disini, di negara ini, kadang slogan lebih berarti dari ngerjain kerjaan yang di-slogan-in yang biasanya emang ga seksi.
Contohnya gini. Slogan “selamatkan lingkungan” jelas seksi. Navicula keren banget bawain isu lingkungan di lagu-lagu grunge mereka. Tapi kalo semua pengen jadi Navicula, terus siapa yang beneran menyelamatkan lingkungan?
Ini loh masalahnya. Bikin band itu jelas kerjaan yang passion-able banget. Apalagi berhasil menyuarakan isu penting dalam karyanya. Cool. Tapi kadang kita lebih menyoroti hal-hal remeh seperti ini. Hal-hal yang slogan banget. Sementara hutan tiap hari tetep terus-terusan ditebang pas kita dengerin Navicula teriak selamatkan hutan. Sementara orang utan tetep dibantai pas kita sibuk ngadain lomba poster selamatkan orang utan. Sementara Jakarta tetep macet naik ketika kamu sibuk bikin foto instagram jelajahi negerimu. Sementara bumi tetep memanas ketika kita sibuk teriak-teriak isu global warming.
Karena…
Karena kita masih ngga ngapa-ngapain. Karena biasanya kita udah ngerasa tenang ketika selesai teriak-teriak tentang slogan tadi. “Setidaknya apa yang jadi kegundahan gue berhasil didengar banyak orang, semoga yang lain terinspirasi”.
Masalahnya..
Siapa yang terinspirasi?
Dan terinspirasi buat ngapain?
Kalau dibilang ga ada yang ngapa-ngapain juga, ngga juga sih. Banyak kok yang turun ke lapangan buat ngapain, kerja yang beneran, yang berguna, yang ga oportunis. Tapi ya ga pernah keliatan. Karena mungkin emang ga seksi sih. Sehari-hari bikin analisis soal manajemen hutan dan sertifikasi produk kayu di dalam bilik kubikel kantor di gedung lantai 12 mungkin emang lebih ga penting daripada di studio rekaman bikin lagu tentang selamatkan hutan (yang ironisnya, kertas yang dipake buat ngeprint kadang hasil dari nebang hutan juga). Sehari-hari ngurusin amdal, bikin STP, bikin skema distribusi listrik, mungkin emang ga sekece foto-foto di tempat keren terus bikin quote inspirasi. Sehari-hari bikin modeling dan analisis desain gedung emang ga lebih seksi daripada bikin cerpen dan novel tentang global warming yang kian menggila. Abaikan kalimat barusan karena kok malah kayak baper sama kerjaan sendiri.
Tapi bukan terus masalah siapa yang ngerjain karena pasti ada tumbal buat ngerjain hal-hal yang keliatannya ga passion-able amat. InsyaAllah masih ada lah kalo buat sekarang, orang-orang yang entah kenapa mau-maunya buat ngerjain hal-hal yang literally menyelamatkan dunia tapi emang kayak remeh, kayak kerjaan kantoran 8-5 doang. Mainstream. Tapi mindset nya yang emang harus dibenerin. Karena harus ada yang mau ngejadiin hal-hal penting kaya gini jadi passion.
Ketika semua orang menjual brand passion, ya jangan salahkan kalau lebih banyak orang yang akan protes soal ketidak-tersediaan fasilitas daripada orang yang beneran kerja buat ngadain fasilitasnya. Jangan kaget kalau lebih banyak orang nyanyi dan motret hutan yang gundul daripada orang yang mikirin administrasi biar hutan ga jadi gundul.
Jadi intinya adalah: ini adalah soal cinta dan esensi dari kerjaan yang kamu lakukan. Ga ada salahnya ngejar passion, tapi lebih ga ada salahnya lagi buat bilang sama anak cucu besok bahwa passion ga melulu soal seni, musik, dan desain, dan hal-hal menyenangkan lain. Bahwa mengerjakan sesuatu yang di-slogan-kan kadang lebih berguna daripada teriak-teriak soal slogan. Bahwa hasil kritik Gie soal kubangan lumpur yang jorok bernama politik tidak akan benar-benar berguna ketika tidak ada orang yang lalu emang terjun dan berani untuk membersihkan kubangan lumpur tersebut.
Karena kadang menjadi tua di jalan bisa jadi lebih berguna buat orang lain daripada diam di rumah dan hanya menghasilkan tulisan tanpa mau benar-benar turun dan berbuat sesuatu.
…
“Tapi kadang yang udah kaya gitu juga uangnya ga gede-gede amat pak!”
Yah, kalo soal itu mah…
Dia lalu berkata, "buat apa sih kita hidup?
..we're just another vessel, trapped in the world that has no ending, unless we die".
Iya. Kata fin itu hanya akan muncul ketika kamu mati. Tidak seperti film, kata fin tidak muncul ketika cewek yang kamu kejar akhirnya jatuh cinta padamu. Tidap pula ketika kamu akhirnya diwisuda, atau berhasil mencapai pekerjaan impian, atau juara turnamen nasional, atau berhasil mengenyahkan penjahat.
**
Itu adalah hari yang kelabu. Hujan agak deras di luar sana, sedangkan kami sama-sama tidak membawa payung. Ada warung indomie di seberang jalan. Sepertinya kami memiliki kesadaran yang sama untuk menepi dan menikmati indomie. Sama juga dalam memilih untuk membeli mi rebus rasa soto dengan telor dan kornet. Kopi saset juga bukan ide yang buruk, tapi dia lebih memilih teh hangat.
"Orang-orang yang ada di dalam mobil itu, dia tidak selayaknya memiliki romansa dalam hujan. Seharusnya dia menghapus seluruh update status dari seluruh media sosialnya jika ada sesuatu yang mengandung kata hujan!"
Dia agak sedikit basah sehabis berlari di tengah hujan tadi. Memakai kerudung hitam yang pendek, sweater agak kebesaran berwarna merah tua, dan celana jeans. Dia lalu mengeluarkan handphone-nya. Membuka salah satu media sosial, dan mulai mengetik sesuatu. Lama kemudian, setelah agak panjang, dia menutup handphone-nya.
"Nggak jadi dipos?"
"Nggak. Terlalu menye. Haha"
Mi rebus sudah jadi. Harumnya yang khas, ditambah bunyi hujan dan udara dingin yang dibawanya, menambah nafsu lapar untuk segera lalu menyantapnya.
"Betah di sini?" Dia memulai obrolan.
"Kalo dibilang betah sih.."
"Haha, kebanyakan orang sih bilang kayak gitu. Pakai sih. Haha.."
"Haha.."
"Memang, apa sih yang kamu cari?"
"..."
2 tahun di ibu kota, dan hidup tidak juga membaik. Dia juga sama. Bekerja sebagai staff salah satu televisi nasional. Setiap hari, dia harus mengkoordinir acara dangdut yang entah kenapa syuting hampir 7 hari seminggu.
"Padahal sebelom masuk sini, boro-boro kenal sama artis dangdut, dengerin aja kaga. Sekarang, kamu tanya apa album-albumnya Iis Dahlia juga gue hafal!"
Di luar sana, anak-anak kecil di perempatan jalan yang macet itu meyemprotkan semacam sabun ke kaca-kaca mobil melalui botol aqua yang tutupnya sudah dilubangi. Pengendara mobil tampaknya enggan untuk protes, meskipun hasil dari air sabun tadi malah membuat kaca dari mobilnya menjadi buram. Mereka hanya sanggup untuk secepatnya memberi pecahan uang koin agar anak-anak itu cepat pergi dari mobilnya, untuk kemudian pindah ke mobil yang lain.
**
"Ketika bicara tentang tujuan hidup, kamu lebih suka untuk membicarakan yang mana: mimpi, atau agama?"
Dia mengerutkan dahinya. Mi di mangkoknya telah habis.
"Mimpiku dari dulu cuma satu. Menjelajahi negeri ini, bekerja pada LSM atau apapun. Aku ingin berguna dalam hidup, dan setidaknya, aku ingin meninggalkan sesuatu. Semcam legacy. Agama bagiku adalah prinsip dan arahan dalam hidup yang..."
Tiba-tiba dia berhenti berbicara. Hujan masih deras. Ada rombongan anak-anak yang sedang dimarahi oleh ibu-ibu gendut di luar stasiun di seberang jalan. Dia marah karena anak-anak ini tadi berlari seenaknya sehingga menjatuhkan baju yang baru saja dibeli ibu tadi.
"...bukankah di dalam kitab, kita hanya perlu untuk menyembah Tuhan saja kan?"
Kopi yang hangat pelan-pelan menjadi dingin. Jakarta yang panas seolah berubah menjadi Bandung yang dingin.
"Aku tetap tidak ingin tidak peduli dengan mimpi."
**
Hujan pelan-pelan berhenti. Asap rokok dari pemuda di seberang meja membaur dengan harum kopi saset dan udara yang dingin. Kami membayar, lalu bergegas menuju stasiun KRL. Jika sesuai dengan jadwal, 5 menit lagi kereta yang menuju Tanah Abang akan tiba.
--dalam rangkaian Cerita Lain di Hari Hujan yang sepertinya akan asik untuk dilanjutkan :)
Iya, kita sama sama tahu, hujan menimbulkan berbagai macam rasa. Mulai dari rasa senang karena suara hujan yang ada karena biasanya harus dicari dari rainymood, atau rasa dingin yang lalu butuh hangat dari peluk atau uap teh manis, atau rasa jengkel karena jemuran belum diangkat, atau rasa khawatir karena jalanan mulai tergenang dan kendaraan mulai padat, atau "sial kenapa nggak bawa jas hujan!". Atau rasa-rasa yang lain.
Mungkin kamu berada di suatu selasar galeri, dan lalu tiba-tiba hujan, sedangkan kamu berada di suatu bagian galeri, di kafe, yang tidak bersahabat dengan kenyamanan dalam hujan. Suara-suara tertutup oleh deras bunyi hujan. Apalagi ditambah dengan semacam atap dari seng plastik (apalah namanya) yang mengamplifikasi deras bunyi hujan. Akustika ruanganmu menjadi kacau. Tapi di balik semua kebisingan itu, kamu hening. Kamu hening dalam hujan. Hening yang classy.
Mungkin kamu berada di suatu acara seni terbesar di kotamu. Orang-orang mengombak. Menjadi seperti laut karena terlalu banyak hingga tidak menyisakan ruang agak buih bergerak dan air mengalir. Lalu hujan mendera, seperti tidak direncanakan sebelumnya. Mungkin cabainya kurang ditanam, atau kolornya lupa dilempar. Lalu hujan membuat ombak tadi berhamburan seperti semut yang terancam. Lalu menumpuk dalam suatu tempat teduh yang penuh sesak. Dan ramai. Tapi kamu hening. Kamu hening dalam desak nafas dan lelah orang-orang. Hening yang classy.
Mungkin kamu berada dalam sebuah ruang yang dingin oleh pengkondisi udara yang terlampau dingin meski kamu atur suhu lebih dari 25 derajat. Di kaca itu, di kaca gedung itu, bulir-bulir hujan yang menimpa atap dan curtain wall, membanyak, mendistorsi bayanganmu di kaca. Mendistorsi dirimu yang sedang melihat hujan. Meski dari speaker komputermu terdengar November Rain, tapi dalam dirimu, kamu sedang hening. Kamu hening dalam ruangan penuh distorsi. Hening yang classy.
Mungkin kamu sedang berada dalam bilik kamarmu yang kecil. Dan kelaparan. Dan pada kondisi drama antara meneruskan kelaparan, atau membuat mie sedang tadi pagi kamu juga sudah sarapan pakai indomie goreng jumbo. Di balik buffet, ada 2 buah mi rebus pedas yang sangat menggoda untuk kamu makan. Sedangkan film yang kamu bajak dari internet sudah selesai kamu download. Seperti menyenangkan untuk dilihat sambil makan mi yang hangat. Kamu hening, dan masih kelaparan. Hening yang agak classy.
Atau kamu sedang di luar.
Sedang kedinginan melawan hidup.
Dalam riuh dan bising ibukota yang hujan, kamu melakukan pekerjaan yang seolah adalah lalat yang tidak berarti bagi orang-orang lain. Menawarkan payung pada ibu-ibu yang turun dari taksi, menyemprot semacam sabun ke kaca mobil-mobil yang macet, menjaga belokan U-turn dan membuat tambah macet karena seenaknya mengatur lalu lintas, menjual koran yang basah, mengecor struktur pondasi bangunan lantai 34, menggosok batu, membuatkan nasi goreng kepada supir taksi di tengah malam, menunggu dan bertanya pada penumpang kereta ekonomi apa ada barang yang mau dibawakan, atau hal-hal lain yang bahkan tidak terbayang. Seolah-olah, hidup adalah kutukan yang pahit karena kamu hanya menjadi asteroid yang terlupakan di hingar bingar ibukota. Kamu kedinginan, sedangkan selimutmu tidak cukup tebal untuk membuatmu hangat. Dan dalam hujan itu, heningmu adalah sesuatu yang mahal. Berganti menjadi doa. Dan harapan-harapan. Heningmu adalah suara-suara yang keras, berteriak hingga ujung semesta. Heningmu adalah sebuah pertanyaan terhadap ruang dan waktu. Jauh lebih classy dari seseorang yang hanya bisa memuja hujan dalam romantisme absurd.
Dalam hening hujan ini, rasa dan do'a mengalir menjadi satu, melewati sungai yang keruh dan bau, menuju laut dengan sejuta tujuan.
Jakarta, dalam suatu hujan,
dalam hening yang agak classy.
Lumayan juga lihat statistik pengunjung blog yang walau kayak sepi tapi sehari beberapa orang ternyata tetep ada yang masuk kesini. Oh I've been so busy, and lazy.. Tapi saya aktif di web baru:
Isinya tentang diskusi lintas bidang tentang arsitektur dan energi sama Andin cah arsitek (ceritanya saya bagian teknik2 nya, padahal da aku mah..). Itung-itung bikin portofolio tulisan sama dokumentasi apa-apa aja yang udah dikerjain di kantor. Kalau mungkin selo coba2 aja dikunjungi mas mbak, sukur-sukur bisa bikin diskusi hehe. Makasih :)
Tapi kalau kita ngomongin dia, seolah-olah adalah bahwa dia itulah yang sempurna banget sih buat kita! Seolah-olah, bahwa makhluk selain dia itu ya ngga ada di muka bumi. Atau ada, tapi cuma figuran.
Dia yang kita bicarakan adalah dia yang membuat kamu suka. Membuat drama hidupmu lalu ada. Membuat kamu bikin lagu, bikin puisi, bikin novel, bikin cerita fiksi. Membuatmu lalu berstatus di twitter, atau facebook. Membuatmu mencerita kepada semua. Membuatmu lalu menjadi dirimu yang selalu berpikir tentangnya. Seolah-olah, skrip yang ada adalah benar-benar dari dirimu. Seolah-olah dia adalah yang berasal dari dirimu. Siapa dia-mu?
Seolah-olah skrip yang ada adalah benar-benar dari dirimu. Seolah-olah dia adalah yang berasal dari dirimu.
Seolah-olah ketika drama yang kamu ciptakan, adalah kamu yang memang berharap drama itu ada. Adalah bahwa dia berasal dari dirimu, bukan darinya. Adalah dirimulah yang menciptakan dia. Kesadaranmu membentuk dia. Utopiamu membuat dia.
Ketika Imogen Heap berbicara di telepon dengan dia di telemisscomunication, apakah dia-nya bisa sama dengan dia-mu?
Ketika Duta memuja dengan rahasia kepada dia, apakah dia-nya juga adalah dia-mu?
Ketika Meng berkilah bahwa sadel sepedanya hilang dicuri agar untuk bisa membonceng dia di depan sepedanya, apakah dia-nya juga sama seperti dia yang kamu bonceng?
Ketika Gie menulis tentang dia yang mengasihinya, apakah dia-nya juga dia yang mengasihimu?
Ketika Nick Minaj membicarakan dia yang bokongnya besar, apakah dia-nya juga adalah dia-mu yang berbokong besar? err.. mungkin tidak.
Kalau terdapat tempat bernama Utopia, mungkin juga terdapat dia yang berada dalam Utopiamu, untuk senantiasa membuatmu terus meracik skenario yang bagus tentang hidupmu dan hidupnya yang hanya sekali.
Bersenang-senanglah dengan dia-mu, setidaknya sampai pada suatu ketika bahwa dia adalah dirinya sendiri yang bukan berada dalam utopiamu. Ketika dia-mu bukan lagi menjadi objek, tetapi menjadi subjek tersendiri yang juga mempunya subjek pikirannya yang lain. Ketika diamu bukan dia.
(another trash in here, sorry)
Dia yang kita bicarakan adalah dia yang membuat kamu suka. Membuat drama hidupmu lalu ada. Membuat kamu bikin lagu, bikin puisi, bikin novel, bikin cerita fiksi. Membuatmu lalu berstatus di twitter, atau facebook. Membuatmu mencerita kepada semua. Membuatmu lalu menjadi dirimu yang selalu berpikir tentangnya. Seolah-olah, skrip yang ada adalah benar-benar dari dirimu. Seolah-olah dia adalah yang berasal dari dirimu. Siapa dia-mu?
Seolah-olah skrip yang ada adalah benar-benar dari dirimu. Seolah-olah dia adalah yang berasal dari dirimu.
Seolah-olah ketika drama yang kamu ciptakan, adalah kamu yang memang berharap drama itu ada. Adalah bahwa dia berasal dari dirimu, bukan darinya. Adalah dirimulah yang menciptakan dia. Kesadaranmu membentuk dia. Utopiamu membuat dia.
Ketika Imogen Heap berbicara di telepon dengan dia di telemisscomunication, apakah dia-nya bisa sama dengan dia-mu?
Ketika Duta memuja dengan rahasia kepada dia, apakah dia-nya juga adalah dia-mu?
Ketika Meng berkilah bahwa sadel sepedanya hilang dicuri agar untuk bisa membonceng dia di depan sepedanya, apakah dia-nya juga sama seperti dia yang kamu bonceng?
Ketika Gie menulis tentang dia yang mengasihinya, apakah dia-nya juga dia yang mengasihimu?
Ketika Nick Minaj membicarakan dia yang bokongnya besar, apakah dia-nya juga adalah dia-mu yang berbokong besar? err.. mungkin tidak.
Kalau terdapat tempat bernama Utopia, mungkin juga terdapat dia yang berada dalam Utopiamu, untuk senantiasa membuatmu terus meracik skenario yang bagus tentang hidupmu dan hidupnya yang hanya sekali.
Bersenang-senanglah dengan dia-mu, setidaknya sampai pada suatu ketika bahwa dia adalah dirinya sendiri yang bukan berada dalam utopiamu. Ketika dia-mu bukan lagi menjadi objek, tetapi menjadi subjek tersendiri yang juga mempunya subjek pikirannya yang lain. Ketika diamu bukan dia.
(another trash in here, sorry)




