melankoli dunia paralel

9:48 PM


Dan kita berdua berada di atas awan. Aku menghirup racun nikotin, kamu tersenyum melihat ke bawah. Melihat atap-atap rumah yang dari atas terlihat seperti sebuah koloni dari semut merah. Dan manusia, dan monster, terlihat seperti titik-titik yang saling melenyapkan. Seperti amuba yang saling makan satu sama lain. 

Kamu pikir itu lucu? Oh tidak sayang, katamu. Tapi ini semua menyenangkan. Bersamamu seperti ini, berdua saja diterpa angin, melihat kapal terbang yang lalu lalang--sibuk dengan urusannya sendiri, melihat naga-naga yang sesekali terlihat menyembul dari awan seperti lumba-lumba yang seolah pamer akan keindahan tubuhnya, melihat bintang yang dekat, melihat bulan yang besar, melihat segalanya, bersamamu, bahkan perang besar yang sedang terjadi di bawah sana, selalu menyenangkan.

Kamu lalu tiba-tiba tertawa. Apa yang lucu? Kataku.
Kita beruntung, bisa berada disini. Bersama. Berdua saja.

 "Apa arti cinta menurutmu?"

Aku tersedak. Batang nikotinku terjatuh, terlepas dari tanganku menuju ke bawah sana. Ke kumpulan manusia dan monster yang masih saling menghabisi. Mungkin akan kena salah satu dari mereka nanti. Atau mungkin akan lenyap dahulu dimakan angin. Tapi tidak dengan senyummu yang nakal, menunggu jawabanku yang belum mau keluar dari otak.

Cinta ya? Mungkin semacam ini, semacam sesuatu yang baru akan kita rasakan setelah kita dekat. Lalu entah. Aku tak tahu pasti. Yang jelas, aku senang ketika bersama orang yang aku cintai. Senang, sampai lupa untuk sekedar melihat smartphone.

"Hahaha kamu terlalu serius!"

Dan angin terus berhembus. 
Dan samar-samar  membawa bait-bait nada yang melankolis.


You Might Also Like

0 comments