Passion

12:49 PM

Disclaimer: Tulisan ini adalah hasil 100% kebaperan penulis di akhir 2015. Sangat egois, narsis, dipenuhi rasa iri, dan memiliki sudut pemikiran yang sangat sempit. Pengennya sih please don’t judge me, tapi ya sembarang sih. Kayaknya ga akan banyak dibaca juga. Another note to my future self. Whatever, here we go..





Siapa sih itu, lupa, puisi, yang bilang kalau alangkah mengerikan sekali menjadi tua dengan kenangan masa muda berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. Oh pak Seno Gumira Ajidarma.

Masalahnya pak, kalau semua orang terus akhirnya bikin puisi, njuk siapa yang mau kamu suruh buat ngitung beban struktur dan analisis biaya buat mbangun jembatan selat madura? Random sih contohnya emang, tapi semoga nangkep maksudnya.

Jadi gini…

Kayaknya sering banyak orang bilang, ga usah peduli apa kata orang, yang penting kejar passionmu! Keren sih kalau kamu gitu, idealis. Masalahnya, terus kerjaaan-kerjaan yang agak susah jadi passion orang-orang siapa yang ngerjain?!

Biasanya awal mula gerah mau ngapain dimulai pas SMA atau awal kuliah. Anak SMA mah apa taunya cuma pesta dan cinta. Bukunya biasanya sih belom. Ketika pandangan masih sempit, dunia pun ditarik hanya dari yang senang-senang aja, atau yang “kata orang sih” berguna. Pada akhirnya, titik balik diambil. Orang jadi musisi, pelukis, dan lain sebagainya, dalam rangka mengejar passion. Pada saat itu, mungkin beberapa berhasil, beberapa gagal dan akhirnya balik lagi ke jalur yang agak lebih “mainstream”. Masalah yang terjadi adalah: boleh lah satu dua orang keluar jalur. Tapi ketika hal ini jadi trend kaya akhir-akhir ini, kayak semua orang harus kejar passionmu, upload karyamu dimana-mana, terus yang ngerjain hal-hal yang bukan jadi passion orang tapi lebih berguna njuk siapa?

Sepertinya disini, di negara ini, kadang slogan lebih berarti dari ngerjain kerjaan yang di-slogan-in yang biasanya emang ga seksi.

Contohnya gini. Slogan “selamatkan lingkungan” jelas seksi. Navicula keren banget bawain isu lingkungan di lagu-lagu grunge mereka. Tapi kalo semua pengen jadi Navicula, terus siapa yang beneran menyelamatkan lingkungan?

Ini loh masalahnya. Bikin band itu jelas kerjaan yang passion-able banget. Apalagi berhasil menyuarakan isu penting dalam karyanya. Cool. Tapi kadang kita lebih menyoroti hal-hal remeh seperti ini. Hal-hal yang slogan banget. Sementara hutan tiap hari tetep terus-terusan ditebang pas kita dengerin Navicula teriak selamatkan hutan. Sementara orang utan tetep dibantai pas kita sibuk ngadain lomba poster selamatkan orang utan. Sementara Jakarta tetep macet naik ketika kamu sibuk bikin foto instagram jelajahi negerimu. Sementara bumi tetep memanas ketika kita sibuk teriak-teriak isu global warming.

Karena…

Karena kita masih ngga ngapa-ngapain. Karena biasanya kita udah ngerasa tenang ketika selesai teriak-teriak tentang slogan tadi. “Setidaknya apa yang jadi kegundahan gue berhasil didengar banyak orang, semoga yang lain terinspirasi”.

Masalahnya..
Siapa yang terinspirasi?

Dan terinspirasi buat ngapain?

Kalau dibilang ga ada yang ngapa-ngapain juga, ngga juga sih. Banyak kok yang turun ke lapangan buat ngapain, kerja yang beneran, yang berguna, yang ga oportunis. Tapi ya ga pernah keliatan. Karena mungkin emang ga seksi sih. Sehari-hari bikin analisis soal manajemen hutan dan sertifikasi produk kayu di dalam bilik kubikel kantor di gedung lantai 12 mungkin emang lebih ga penting daripada di studio rekaman bikin lagu tentang selamatkan hutan (yang ironisnya, kertas yang dipake buat ngeprint kadang hasil dari nebang hutan juga). Sehari-hari ngurusin amdal, bikin STP, bikin skema distribusi listrik, mungkin emang ga sekece foto-foto di tempat keren terus bikin quote inspirasi. Sehari-hari bikin modeling dan analisis desain gedung emang ga lebih seksi daripada bikin cerpen dan novel tentang global warming yang kian menggila. Abaikan kalimat barusan karena kok malah kayak baper sama kerjaan sendiri. 

Tapi bukan terus masalah siapa yang ngerjain karena pasti ada tumbal buat ngerjain hal-hal yang keliatannya ga passion-able amat. InsyaAllah masih ada lah kalo buat sekarang, orang-orang yang entah kenapa mau-maunya buat ngerjain hal-hal yang literally menyelamatkan dunia tapi emang kayak remeh, kayak kerjaan kantoran 8-5 doang. Mainstream. Tapi mindset nya yang emang harus dibenerin. Karena harus ada yang mau ngejadiin hal-hal penting kaya gini jadi passion.

Ketika semua orang menjual brand passion, ya jangan salahkan kalau lebih banyak orang yang akan protes soal ketidak-tersediaan fasilitas daripada orang yang beneran kerja buat ngadain fasilitasnya. Jangan kaget kalau lebih banyak orang nyanyi dan motret hutan yang gundul daripada orang yang mikirin administrasi biar hutan ga jadi gundul.

Jadi intinya adalah: ini adalah soal cinta dan esensi dari kerjaan yang kamu lakukan. Ga ada salahnya ngejar passion, tapi lebih ga ada salahnya lagi buat bilang sama anak cucu besok bahwa passion ga melulu soal seni, musik, dan desain, dan hal-hal menyenangkan lain. Bahwa mengerjakan sesuatu yang di-slogan-kan kadang lebih berguna daripada teriak-teriak soal slogan. Bahwa hasil kritik Gie soal kubangan lumpur yang jorok bernama politik tidak akan benar-benar berguna ketika tidak ada orang yang lalu emang terjun dan berani untuk membersihkan kubangan lumpur tersebut.

Karena kadang menjadi tua di jalan bisa jadi lebih berguna buat orang lain daripada diam di rumah dan hanya menghasilkan tulisan tanpa mau benar-benar turun dan berbuat sesuatu.



“Tapi kadang yang udah kaya gitu juga uangnya ga gede-gede amat pak!”

Yah, kalo soal itu mah…

You Might Also Like

1 comments

  1. Aku pernah banget memikirkan hal yang serupa! Apalagi sekarang kayaknya lagi sering banget menggembor-gemborkan passion. Mulai dari di sosial media sampai di buku-buku gramedia.
    Tapi setelah cukup lama berpikir, ya kembali lagi sih...

    "Ga ada salahnya ngejar passion, tapi lebih ga ada salahnya lagi buat bilang sama anak cucu besok bahwa passion ga melulu soal seni, musik, dan desain, dan hal-hal menyenangkan lain."

    Menurutku hal-hal yang kelihatannya "unpassionable" bagi kita bisa jadi tampak sangat menarik di mata aorang lain. Orang yang passionnya 'hanya' seni justru kurang luas wawasannya, sehingga mereka belum ketemu passionnya di bidang non-seni. Passion nggak harus satu kan? But well, komentar ini juga egois dan berpikiran sempit sih karena aku belum bekerja (masih mahasiswa) dan masih belum punya masa depan yang tertata. Hmm....

    Good post tho (y)

    ReplyDelete